Posted by: agusta6872 | June 6, 2009

BARALEK

BARALEK

 

 

 

A

pa sihBaralek?Baralekadalah istilah dalam bahasa Minang yang berarti pergi ke undangan/pesta, pestadisini bisa pernikahan seseorang, perayaan khatam qur’an, dan lain-lain. Pada bulan April 2009, staf stasiun GAW mendapat beberapa undangan Baralek,di antaranya adalah Baralek ke tempat Budi Samiaji (Sabtu 11 April 2009) danBaralek ke tempat Yasri Anwar (Sabtu, 20 April 2009).

 

Baralek Ke Budi Samiaji dan berwisata ke Lembah Anai

 

Siapa Budi Samiaji itu? Budi Samiaji adalah Salah satu staf BMKG Stasiun MeterologiTabing.

abtu11 April 2009, Pagi itu kami staf GAW mendapat undangan Baralek ke stafMeteorologi Tabing, saat itu Stasiun GAW ‘diwakili’ oleh generasi muda, Albert,saya (agus), Buset, Aulia, Firda, dan dengan mobil GAW dikendarai oleh PakAmgindo (panggilannya Pak Am). Mas Asep tidak mau mengendarai mobil karenamerasa kurang kenal dengan Budi Samiaji tersebut, Mas Edison-Mas Budi Satriadinas ke atas, Istri Mas Darmadi sakit, Mas Sugeng titip karena berada di Batusangkar, sedang Yosfi juga titip karena kakeknya di Padang Panjang beberapahari yang lalu meninggal dunia di rumah sakit sehingga GAW diwakili olehgenerasi muda.

 

Saatwaktu menunjukkan pukul 09.00 WIB ternyata Pak Am, belum datang ke Pasadama,dia menelpon kalo ternyata ada rasia polisi di dekat parau, akhirnya Auliadengan motor Megapro Kantor menjemput Pak Am. Singkat kata saat pukul 10.30WIB, kami berangkat berenam. Saya didepan disamping PAk Am, dibelakang adaFirda, Aulia, Albert dan Buset. Sekitar pukul 11.00 WIB kami mampir dulu diNiagara, Aulia ke Bank Mandiri untuk mengambil uang, sementara itu saya,Albert, Firda membeli amunisi (makanan dan minuman kecil). Setelah selesaibelanjanya, di mobil saya bertukar tempat dengan Albert dan Buset, karena Busetmerasa kasihan dengan Firda yang tergencet di tengah. Saya, Aulia dan Firda dimobil tengah, sementara di dekat sopir (PAk Am) Buset dan Albert. Setelah itumobil berhenti sejenak untuk mengisi solar, dana yang tersedia untuk mobil daribendahara Rp150.000,-. Belum beberapa lama perjalanan saat sampai di PAdangLuar, ternyata macet, indikator temperatur di mobil mencapai 36 derajatcelcius.

 

Ketikamencapai Rumah Makan di sekitar Sicincin, saat itu pukul 12.30 kami mampir duluuntuk mencicipi es kelapa muda, kami pesan enam gelas dulu, setelah itu PAk Amdilanjutkan saya ke belakang dulu.

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saatmenunggu di RM makan ternyata Pemilik Rumah Makan, Ibu Muda yang gemuk ternyataorang Jawa Timur yang telah agak lama menetap di Minang, sementara itu ada bapak-bapaksetengah baya yang memberitahu saya dengan bahasa Minang bahwa kamar mandi dibelakang agak retak-retak karena gempa. Melihat desain gasebo Rumah makan itucukup unik karena ada di masing-masing gasebo sudah disediakan satu galon akuayang disisi sampingnya ada kran dan beberapa gelas, sehingga tak disediakan airputih dalam teko. Saat itu kami masing-masing tidak langsung bayar, tetapinanti diakumulasi pada saat pulang ke Pasadama. Mobil meninggalkan rumah makanpada pukul 13.06.

 

Kamitidak langsung datang ke Baralek tapi mampir dulu ke Rumah Pak Ijal, sampaiditempat Pak Herizal pukul 14.30, disitu kami semua tidak tahu lokasi tepatnyatempat baralek. Sampai di rumah PAk Ijal ternyata Pohon Jambunya sedang berbuahwalaupun belum matang, saya Aulia dan Buset mengambil buah jambu tersebut, dandi rumah ada Ibu Ijal, Icha dan PAk Ijal sendiri. Setelah Sholat, Buset, Auliadan Firda, kami minta tolong Pak Ijal untuk mengantar ke tempat Baralek, PAkIjal mengendarai mobil GAW, Pak Am pindah ke Belakang mobil, ternyata Pak Ijalmungkin kelaparan, bukannya mengantar kami langsung ke baralek tapi malah kerumah makan di dekat sungai,


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kamimakan dulu dan saya mengambil foto lokasi tersebut. Sampai di rumah makan pukul15.10 WIB, kami makan dulu sekalian Pak Ijal cerita tempat itu lokasi baikkarena sungai itu dari mata air di Solok, airnya dingin dan Pak Ijal dan Ichadulu pernah bermain disungai itu.Biaya makan saat itu Rp147.000,- untuk semua.

 

Kira-kirapukul 16.00 kami melanjutkan perjalanan ke tempat baralek, Pak Am masih tidurdi bagian belakang mobil, Pak Ijal mengemudi mobil, Buset dan Albert di depan,saya , aulia dan firda di tengah. Sampai di pinggir rel kereta api Tabing adaMarawal (bendera Jerman: Merah, hitam Orange merupakan bendera tanda kalo adabaralek),


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kira-kirapukul 16.30 WIB kami masuk ke rumah baralek, Pak Ijal menunggu di mobil karenatadi pagi sudah datang ke baralek dan Pak Am masih tidur di belakang mobil tapisaat itu ternyata orang-orang BMG sesumbar sudah datang ke baralek siangharinya. Sesampai disana kami disuguhi dengan acara panggung musik, Setelahmakan kami bersalaman dengan Budi Samiaji dan Istrinya, setelah itu fotobersama lalu pulangsesumbar telah datang sebelumnya, sehingga kami dapat dikatakantak berjumpa dengan orang BMG. Kami cuma mengambil nasi lauk seadanya karenatadi sudah mampir dulu di rumah makan.

 

Pukul17.00 WIB, kami pulang baralek,Pak Ijal masih mengemudi di depan, dia berhentididepan jalan dekat brimob dipinggir jalan dekat lubuk buaya, tidak sampai kerumahnya, Pak Am dibangunkan untuk mengendarai mobil. Kami langsung menuju kearah Bukit tinggi. Kira-kira pukul 18.00 WIB, keadaan sudah senja kami mampirdulu ke lembah anai, dengan ongkos masuk anak-anak Rp1000,- dewasa Rp1.500,-.

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamiberlima masuk saya, Aulia, Firda, Buset dan Albert masuk, sementara Pak Ammenunggu di mobil untuk menjaga mobil katanya. Disitu kami mengambil foto danvideo dari kamera digital saya dan dari HP firda, dari HP Aulia. Lembah Anaiberada di sekitar Padang Pariaman, daerah wisata Air Terjun. Tak beberapa lamaada rombongan lain yang datang ke situ. Setelah keadaan gelap kami langsungturun dan kembali ke mobil, usaha Buset untuk mendapatkan NoHP dari seorangcewek cantik di situ ternyata gagal dan tidak direspon dengan baik.

 

Setelahkami semua masuk, mobil melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, kira-kira pukul19.20 WIB ternyata Pak Am mungkin lapar, karena sebelumnya Buset menjanjikanuntuk beli minuman yang hangat di Bukittinggi. Mobil diajak berbelok ke SimpangRaya, Firda, Aulia, Buset mampir dulu ke untuk sholat, kami pesen minuman dulu,saya jeruk hangat, Aulia, Firda dan Albert minta teh hangat, Buset dan Pak Amminta Picadu Cup dan pak Am pesen makan malam sendiri. Semua di bayar olehBuset dulu.

 

Karenamobil kemarin baru saja diservis, Pak minta kesediaan kami bagaimana kalo keBukit Kototabang dulu untuk uji mobil, kami semua diminta persetujuannya dantidak keberatan, maka kami mampir dulu ke Bukit Kototabang, sesampai di KantorGAW Kototabang pukul 20.45,kami bertemu dengan Ibrahim di sana, dia agak kagetkenapa mobil malam-malam ke kantor. Kira-kira 35 menit kami di kantorsetelahitu turun kembali ke Pasadama. Sesampai di rumah dinas Pasadama pukul 22.00WIB, setelah ngobrol sebentar, kami masing-masing diminta sokongan/patunganRp50.000,- untuk semua biaya ke Tabing tersebut.

 

Baralek Ke Yasri

 

Senin20 April 2009, ada salah satu staf GAW yang mengadakan pesta pernikahan,sebenarnya akad nikahnya dilaksanakan hari Jumat 17 April 2009.

 

HariSenin 20 April 2009, kantor pulang cepat karena berencana baralek ke tempatYasri. Setelah pukul 13.30 WIB kami bersama-sama menuju ke rumah Yasri Anwar,lokasinya di Palupuh. Yang mengendarai mobil Mas Asep, di dalamnya P Ijal didepandan ditengah saya (Agus), Mas Sugeng dan Firda. Hampir semua tas dititipkan dibagasi mobil.

·        Yangmenggunakan motor

·        PIrwin sendirian dengan GL 100

·        MDarmadi dengan Buset dengan Megapro merah

·        MCarles dan M Edison dengan Megapro hijau

·        Yosfidan Albert dengan motor bebek honda Suprafit.

Perjalananditempuh kira-kira 15 menit sampai 30 menit menyusuri jalan rayaBukittinggi-Medan, yang cukup berkelok-kelok, orang-orang minang menyebutkan ,dan di sebelah sisi kanan terdapat janur kuning melengkung menandakan lokasipernikahan

Mobilsampai dilokasi pukul 14.30 WIB, kami harus menunggu sebentar karena masih adatamu lain di rumah yang sedang menikmati hidangan, tak beberapa lama kemudiankami mendapat giliran masuk rumah, menikmati hidangan, foto-foto bersama yasrilalu pulang.

KAmipulang pukul 15.09, yang menggunakan mobil sama ditambah dengan Albert, Yosfidan Buset kelihatan tergesa-gesa karena mereka ada ujian Mid Semester di UMSB.

 

Posted by: agusta6872 | May 2, 2009

BARALEK

BARALEK

A

pa sihBaralek? Baralek adalah istilah dalam bahasa Minang yang berarti pergi ke undangan/pesta, pesta  di sini bisa pernikahan seseorang, perayaan khatam qur’an, dan lain-lain. Pada bulan April 2009, staf stasiun GAW mendapat beberapa undangan Baralek,diantaranya adalah Baralek ke tempat Budi Samiaji (Sabtu 11 April 2009) dan Baralek ke tempat Yasri Anwar (Sabtu, 20 April 2009).

Baralek Ke Budi Samiaji dan berwisata ke Lembah Anai

Siapa Budi Samiaji itu? Budi Samiaji adalah Salah satu staf BMKG Stasiun Meterologi Tabing.

abtu11 April 2009, Pagi itu kami staf GAW mendapat undangan Baralek ke staf Meteorologi Tabing, saat itu Stasiun GAW ‘diwakili’ oleh generasi muda, Albert, saya (agus), Buset, Aulia, Firda, dan dengan mobil GAW dikendarai oleh Pak Amgindo (panggilannya Pak Am). Mas Asep tidak mau mengendarai mobil karena merasa kurang kenal dengan Budi Samiaji tersebut, Mas Edison-Mas Budi Satria dinas ke atas, Istri Mas Darmadi sakit, Mas Sugeng titip karena berada di Batusangkar, sedang Yosfi juga titip karena kakeknya di Padang Panjang beberapahari yang lalu meninggal dunia di rumah sakit sehingga GAW diwakili oleh ”generasi muda”.


Saatwaktu menunjukkan pukul 09.00 WIB ternyata Pak Am, belum datang ke Pasadama,dia menelpon kalo ternyata ada rasia polisi di dekat parau, akhirnya Aulia dengan motor Megapro Kantor menjemput Pak Am. Singkat kata saat pukul 10.30WIB, kami berangkat berenam. Saya di depan samping Pak Am, di belakang ada Firda, Aulia, Albert dan Buset. Sekitar pukul 11.00 WIB kami mampir dulu di Niagara(salah satu swalayan di Bukittinggi), Aulia ke Bank Mandiri untuk mengambil uang, sementara itu saya,Albert, Firda membeli amunisi (makanan dan minuman kecil). Setelah selesai belanjanya, di mobil saya bertukar tempat dengan Albert dan Buset, karena Buset merasa kasihan dengan Firda yang tergencet di tengah. Saya, Aulia dan Firda dimobil tengah, sementara di dekat sopir (Pak Am) Buset dan Albert. Setelah itu mobil berhenti sejenak untuk mengisi solar, dana yang tersedia untuk mobil dari bendahara Rp150.000,-. Belum beberapa lama perjalanan saat sampai di PadangLuar, ternyata macet, indikator temperatur di mobil mencapai 36 derajatcelcius.


Ketika mencapai Rumah Makan di sekitar Sicincin, saat itu pukul 12.30 kami mampir dulu untuk mencicipi es kelapa muda, kami pesan enam gelas dulu, setelah itu PAk Am dilanjutkan saya ke belakang dulu.

Saat menunggu di RM makan ternyata Pemilik Rumah Makan, Ibu Muda yang gemuk ternyata orang Jawa Timur yang telah agak lama menetap di Minang, sementara itu ada bapak-bapak setengah baya yang memberitahu saya dengan bahasa Minang bahwa kamar mandi dibelakang agak retak-retak karena gempa. Melihat desain gasebo Rumah makan itu cukup unik karena ada di masing-masing gasebo sudah disediakan satu galon akua yang disisi sampingnya ada kran dan beberapa gelas, sehingga tak disediakan air putih dalam teko. Saat itu kami masing-masing tidak langsung bayar, tetapi nanti diakumulasi pada saat pulang ke Pasadama. Mobil meninggalkan rumah makanpada pukul 13.06.

Kami tidak langsung datang ke Baralek tapi mampir dulu ke Rumah Pak Ijal, sampai ditempat Pak Herizal pukul 14.30, disitu kami semua tidak tahu lokasi tepatnya tempat baralek. Sampai di rumah PAk Ijal ternyata Pohon Jambunya sedang berbuah walaupun belum matang, saya Aulia dan Buset mengambil buah jambu tersebut, dandi rumah ada Ibu Ijal, Icha dan PAk Ijal sendiri. Setelah Sholat, Buset, Aulia dan Firda, kami minta tolong Pak Ijal untuk mengantar ke tempat Baralek, Pak Ijal mengendarai mobil GAW, Pak Am pindah ke Belakang mobil, ternyata Pak Ijalmungkin kelaparan, bukannya mengantar kami langsung ke baralek tapi malah kerumah makan di dekat sungai,

kami makan dulu dan saya mengambil foto lokasi tersebut. Sampai di rumah makan pukul 15.10 WIB, kami makan dulu sekalian Pak Ijal cerita tempat itu lokasi baik karena sungai itu dari mata air di Solok, airnya dingin dan Pak Ijal dan Ichadulu pernah bermain disungai itu. Biaya makan saat itu Rp147.000,- untuk semua.


Kira-kirapukul 16.00 kami melanjutkan perjalanan ke tempat baralek, Pak Am masih tidurdi bagian belakang mobil, Pak Ijal mengemudi mobil, Buset dan Albert di depan,saya , aulia dan firda di tengah. Sampai di pinggir rel kereta api Tabing adaMarawal (bendera Jerman: Merah, hitam Orange merupakan bendera tanda kalo adabaralek),


kira-kira pukul 16.30 WIB kami masuk ke rumah baralek, Pak Ijal menunggu di mobil karena tadi pagi sudah datang ke baralek dan Pak Am masih tidur di belakang mobil tapisaat itu ternyata orang-orang BMG sesumbar sudah datang ke baralek siangharinya. Sesampai disana kami disuguhi dengan acara panggung musik, Setelah makan kami bersalaman dengan Budi Samiaji dan Istrinya, setelah itu foto bersama lalu pulang karena sesumbar telah datang sebelumnya, sehingga kami dapat dikatakan tak berjumpa dengan orang BMG. Kami cuma mengambil nasi lauk seadanya karena tadi sudah mampir dulu di rumah makan.

Pukul 17.00 WIB, kami pulang baralek, Pak Ijal masih mengemudi di depan, dia berhenti didepan jalan dekat brimob dipinggir jalan dekat lubuk buaya, tidak sampai kerumahnya, Pak Am dibangunkan untuk mengendarai mobil. Kami langsung menuju kearah Bukit tinggi. Kira-kira pukul 18.00 WIB, keadaan sudah senja kami mampirdulu ke lembah anai, dengan ongkos masuk anak-anak Rp1000,- dewasa Rp1.500,-.

Kami berlima masuk saya, Aulia, Firda, Buset dan Albert masuk, sementara Pak Am menunggu di mobil untuk menjaga mobil katanya. Disitu kami mengambil foto danvideo dari kamera digital saya dan dari HP firda, dari HP Aulia. Lembah Anai berada di sekitar Padang Pariaman, daerah wisata Air Terjun. Tak beberapa lama ada rombongan lain yang datang ke situ. Setelah keadaan gelap kami langsung turun dan kembali ke mobil, usaha Buset untuk mendapatkan NoHP dari seorang cewek cantik di situ ternyata gagal dan tidak direspon dengan baik.

Setelahkami semua masuk, mobil melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, kira-kira pukul19.20 WIB ternyata Pak Am mungkin lapar, karena sebelumnya Buset menjanjikan untuk beli minuman yang hangat di Bukittinggi. Mobil diajak berbelok ke SimpangRaya, Firda, Aulia, Buset mampir dulu ke untuk sholat, kami pesen minuman dulu,saya jeruk hangat, Aulia, Firda dan Albert minta teh hangat, Buset dan Pak Am minta Picadu Cup dan pak Am pesen makan malam sendiri. Semua di bayar oleh Buset dulu.

Karena mobil kemarin baru saja diservis, Pak minta kesediaan kami bagaimana kalo ke Bukit Kototabang dulu untuk uji mobil, kami semua diminta persetujuannya dan tidak keberatan, maka kami mampir dulu ke Bukit Kototabang, sesampai di Kantor GAW Kototabang pukul 20.45,kami bertemu dengan Ibrahim di sana, dia agak kaget kenapa mobil malam-malam ke kantor. Kira-kira 35 menit kami di kantor setelah itu turun kembali ke Pasadama. Sesampai di rumah dinas Pasadama pukul 22.00WIB, setelah ngobrol sebentar, kami masing-masing diminta sokongan / patunganRp50.000,- untuk semua biaya ke Tabing tersebut.

Baralek Ke Yasri

Senin20 April 2009, ada salah satu staf GAW yang mengadakan pesta pernikahan, sebenarnya akad nikahnya dilaksanakan hari Jumat 17 April 2009.


Hari Senin 20 April 2009, kantor pulang cepat karena berencana baralek ke tempat Yasri. Setelah pukul 13.30 WIB kami bersama-sama menuju ke rumah Yasri Anwar, lokasinya di Palupuh. Yang mengendarai mobil Mas Asep, di dalamnya P Ijal didepan dan ditengah saya (Agus), Mas Sugeng dan Firda. Hampir semua tas dititipkan dibagasi mobil.

· Yang menggunakan motor

· Pak Irwin sendirian dengan GL 100

· Mas Darmadi dengan Buset dengan Megapro merah

· Bang Carles dan Mas Edison dengan Megapro hijau

· Yosfidan Albert dengan motor bebek honda Suprafit.

Perjalananditempuh kira-kira 15 menit sampai 30 menit menyusuri jalan raya Bukittinggi-Medan, yang cukup berkelok-kelok, orang-orang minang menyebutkan sebagai jalan mabok ,dan di sebelah sisi kanan terdapat janur kuning melengkung menandakan lokasi pernikahan

Mobil sampai dilokasi pukul 14.30 WIB, kami harus menunggu sebentar karena masih ada tamu lain di rumah yang sedang menikmati hidangan, tak beberapa lama kemudiankami mendapat giliran masuk rumah, menikmati hidangan, foto-foto bersama yasri lalu pulang.

KAmi pulang pukul 15.09, yang menggunakan mobil sama ditambah dengan Albert, Yosfidan Buset kelihatan tergesa-gesa karena mereka ada ujian Mid Semester di UMSB.

Posted by: agusta6872 | April 21, 2009

BARALEK KE YASRI ANWAR, STAF GAW

Senin 20 April 2009, ada salah satu staf GAW yang mengadakan pesta pernikahan, sebenarnya akad nikahnya dilaksanakan hari Jumat 17 April 2009.

Hari Senin 20 April 2009, kantor pulang cepat karena berencana baralek ke tempat Yasri. Setelah pukul 13.30 WIB kami bersama-sama menuju ke rumah Yasri Anwar, lokasinya di Palupuh. Yang mengendarai mobil Mas Asep, di dalamnya P Ijal didepan dan ditengah saya (Agus), Mas Sugeng dan Firda. Hampir semua tas dititipkan di bagasi mobil.

YAng menggunakan motor
P Irwin sendirian dengan GL 100
M Darmadi dengan Buset dengan Megapro merah
M Carles dan M Edison dengan Megapro hijau
Yosfi dan Albert dengan motor bebek honda Suprafit.

Perjalanan ditempuh kira-kira 15 menit sampai 30 menit menyusuri jalan raya Bukittinggi-Medan, yang cukup berkelok-kelok, orang-orang minang menyebutkan , dan di sebelah sisi kanan terdapat janur kuning melengkung menandakan lokasi pernikahan

Mobil sampai dilokasi pukul 14.30 WIB, kami harus menunggu sebentar karena masih ada tamu lain di rumah yang sedang menikmati hidangan, tak beberapa lama kemudian kami mendapat giliran masuk rumah, menikmati hidangan, foto-foto bersama yasri lalu pulang.

KAmi pulang pukul 15.09, yang menggunakan mobil sama ditambah dengan Albert, Yosfi dan Buset kelihatan tergesa-gesa karena mereka ada ujian Mid Semester di UMSB.

Posted by: agusta6872 | April 20, 2009

Baralek ke Budi Samiaji, Staf BMKG Meteorologi Tabing

Sabtu 11 April 2009, Pagi itu kami staf GAW mendapat undangan Baralek ke staf Meteorologi Tabing, saat itu Stasiun GAW ‘diwakili’ oleh generasi muda, Albert, saya(agus), Buset, Aulia, Firda, dan dengan mobil GAW dikendarai oleh Pak Amgindo (panggilannya Pak Am). Mas Asep tidak mau mengendarai mobil karena merasa kurang kenal dengan Budi Samiaji tersebut, Mas Edison-Mas Budi Satria dinas ke atas, Istri Mas Darmadi sakit, Mas Sugeng titip karena berada di Batu sangkar, sedang Yosfi juga titip karena kakeknya di Padang Panjang beberapa hari yang lalu meninggal dunia di rumah sakit sehingga GAW diwakili oleh generasi muda.

Saat waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB ternyata Pak Am, belum datang ke Pasadama, dia menelpon kalo ternyata ada rasia polisi di dekat parau, akhirnya Aulia dengan motor Megapro Kantor menjemput Pak Am. Singkat kata saat pukul 10.30 WIB, kami berangkat berenam. Saya didepan disamping PAk Am, dibelakang ada Firda, Aulia, Albert dan Buset. Sekitar pukul 11.00 WIB kami mampir dulu di Niagara, Aulia ke Bank Mandiri untuk mengambil uang, sementara itu saya, Albert, Firda membeli amunisi (makanan dan minuman kecil). Setelah selesai belanjanya, di mobil saya bertukar tempat dengan Albert dan Buset, karena Buset merasa kasihan dengan Firda yang tergencet di tengah. Saya, Aulia dan Firda di mobil tengah, sementara di dekat sopir (PAk Am) Buset dan Albert. Setelah itu mobil berhenti sejenak untuk mengisi solar, dana yang tersedia untuk mobil dari bendahara Rp150.000,-. Belum beberapa lama perjalanan saat sampai di PAdang Luar, ternyata macet, indikator temperatur di mobil mencapai 36 derajat celcius.

Ketika mencapai Rumah Makan di sekitar Sicincin, saat itu pukul 12.30 kami mampir dulu untuk mencicipi es kelapa muda, kami pesan enam gelas dulu, setelah itu PAk Am dilanjutkan saya ke belakang dulu. Saat menunggu di RM makan ternyata Pemilik Rumah MAkan, Ibu Muda yang gemuk ternyata orang Jawa Timur yang telah agak lama menetap di Minang, sementara itu ada bapak-bapak setengah baya yang memberitahu saya dengan bahasa Minang bahwa kamar mandi di belakang agak retak-retak karena gempa. Melihat desain gasebo Rumah makan itu cukup unik karena ada di masing-masing gasebo sudah disediakan satu galon akua yang disisi sampingnya ada kran dan beberapa gelas, sehingga tak disediakan air putih dalam teko. Saat itu kami masing-masing tidak langsung bayar, tetapi nanti diakumulasi pada saat pulang ke Pasadama. Mobil meninggalkan rumah makan pada pukul 13.06.

Kami tidak langsung datang ke Baralek tapi mampir dulu ke Rumah Pak Ijal, sampai ditempat Pak Herizal pukul 14.30, disitu kami semua tidak tahu lokasi tepatnya tempat baralek. Sampai di rumah PAk Ijal ternyata Pohon Jambunya sedang berbuah walaupun belum matang, saya Aulia dan Buset mengambil buah jambu tersebut, dan di rumah ada Ibu Ijal, Icha dan PAk Ijal sendiri. Setelah Sholat, Buset, Aulia dan Firda, kami minta tolong Pak Ijal untuk mengantar ke tempat Baralek, PAk Ijal mengendarai mobil GAW, Pak Am pindah ke Belakang mobil, ternyata Pak Ijal mungkin kelaparan, bukannya mengantar kami langsung ke baralek tapi malah ke rumah makan di dekat sungai, kami makan dulu dan saya mengambil foto lokasi tersebut. Sampai di rumah makan pukul 15.10 WIB, kami makan dulu sekalian Pak Ijal cerita tempat itu lokasi baik karena sungai itu dari mata air di Solok, airnya dingin dan Pak Ijal dan Icha dulu pernah bermain disungai itu.Biaya makan saat itu Rp147.000,- untuk semua.

Kira-kira pukul 16.00 kami melanjutkan perjalanan ke tempat baralek, Pak Am masih tidur di bagian belakang mobil, Pak Ijal mengemudi mobil, Buset dan Albert di depan, saya , aulia dan firda di tengah. Sampai di pinggir rel kereta api Tabing ada Marawal (bendera Jerman: Merah, hitam Orange merupakan bendera tanda kalo ada baralek), kira-kira pukul 16.30 WIB kami masuk ke rumah baralek, Pak Ijal menunggu di mobil karena tadi pagi sudah datang ke baralek dan Pak Am masih tidur di belakang mobil tapi saat itu ternyata orang-orang BMG sesumbar sudah datang ke baralek siang harinya. Sesampai disana kami disuguhi dengan acara panggung musik, Setelah makan kami bersalaman dengan Budi Samiaji dan Istrinya, setelah itu foto bersama lalu pulangsesumbar telah datang sebelumnya, sehingga kami dapat dikatakan tak berjumpa dengan orang BMG. Kami cuma mengambil nasi lauk seadanya karena tadi sudah mampir dulu di rumah makan.

Pukul 17.00 WIB, kami pulang baralek,Pak Ijal masih mengemudi di depan, dia berhenti didepan jalan dekat brimob dipinggir jalan dekat lubuk buaya, tidak sampai ke rumahnya, Pak Am dibangunkan untuk mengendarai mobil. Kami langsung menuju ke arah Bukit tinggi. Kira-kira pukul 18.00 WIB, keadaan sudah senja kami mampir dulu ke lembah anai, dengan ongkos masuk anak-anak Rp1000,- dewasa Rp1.500,-. Kami berlima masuk saya, Aulia, Firda, Buset dan Albert masuk, sementara Pak Am menunggu di mobil untuk menjaga mobil katanya. Disitu kami mengambil foto dan video dari kamera digital saya dan dari HP firda, dari HP Aulia. Lembah Anai berada di sekitar Padang Pariaman, daerah wisata Air Terjun. Tak beberapa lama ada rombongan lain yang datang ke situ. Setelah keadaan gelap kami langsung turun dan kembali ke mobil, usaha Buset untuk mendapatkan NoHP dari seorang cewek cantik di situ ternyata gagal dan tidak direspon dengan baik.

Setelah kami semua masuk, mobil melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, kira-kira pukul 19.20 WIB ternyata Pak Am mungkin lapar, karena sebelumnya Buset menjanjikan untuk beli minuman yang hangat di Bukittinggi. Mobil diajak berbelok ke Simpang Raya, Firda, Aulia, Buset mampir dulu ke untuk sholat, kami pesen minuman dulu, saya jeruk hangat, Aulia, Firda dan Albert minta teh hangat, Buset dan Pak Am minta Picadu Cup dan pak Am pesen makan malam sendiri. Semua di bayar oleh Buset dulu.

Karena mobil kemarin baru saja diservis, Pak minta kesediaan kami bagaimana kalo ke Bukit Kototabang dulu untuk uji mobil, kami semua diminta persetujuannya dan tidak keberatan, maka kami mampir dulu ke Bukit Kototabang, sesampai di Kantor GAW Kototabang pukul 20.45,kami bertemu dengan Ibrahim di sana, dia agak kaget kenapa mobil malam-malam ke kantor. Kira-kira 35 menit kami di kantorsetelah itu turun kembali ke Pasadama. Sesampai di rumah dinas Pasadama pukul 22.00 WIB, setelah ngobrol sebentar, kami masing-masing diminta sokongan/patungan Rp50.000,- untuk semua biaya ke Tabing tersebut.

Posted by: agusta6872 | February 23, 2009

Sosialisasi MKKuG ke Solok, Selasa 17 Februari 2009

KArena diberi pesan oleh Budi Setiawan saat senin 16 Februari 2009 bahwa saya dan MAs Sugeng harus ikut sosialisasi ke Solok, HAri selasa 17 Februari 2009 harus siap pukul 06.30 WIB. Maka sejak pukul 05.00 WIB saya sudah bangun pagi, lalu sarapan pagi dan kira-kira pukul 06.00 WIB saya sudah mandi pagi, ganti dengan seragam lalu kira-kira pukul 06.25 WIB, saya keluar dengan tergesa-gesa, EEE ternyata yang ada baru Mas Sugeng, saya tanya ternyata mas Sugeng sudah sarapan mie juga. Kira-kira 8 menit kemudian Pak Am datang dengan motor merahnya, disusul dengan Mas Edison dan selang tak beberapa lama kemudian PAk Herizal datang. Kira-kira pukul 06.45, kami berangkat ke solok, dengan PAk Am Gindo sebagai sopirnya, karena mobil mau dipakai untuk dinas juga maka PAk Am Gindo membawa mobil dengan cukup kencang pula, antara kisaran 80-120 Km/Jam, Di tengah jalan tepatnya di KAbupaten X Koto, PAk Herizal ditelpon oleh Pak Sumarso dari Solo, untuk meminta Pak HErizal mewakili Pak sumarso membuka acara Sosialisai di Solok, kami menyusuri danau Singkarak yang cukup indah dengan pemandangan gunung Tandikat dibelakangnya, sesampai di kota Solok kira-kira pukul 08.10, dan tempat di jalan raya dekat SD kami berhenti sebentar karena ada upacara bendara setiap tanggal 17. Lokasi sosialisasi di perpustakaan di kompleks Universitas Muhammad Yamin, sesampai disana kurang lebih pukul 08.20, setelah berbincang-bincang sebentar dengan Pak Herizal, PAk Am lalu cabut agar dapat mengantar teman-teman pergi dinas ke kantor. Tim Rombongan dari PAdang Panjang telah dahulu sampai, di sana ada Pak Heru sebagai wakil dari Padang Panjang, Mas Fitri, Roni sedang Mengecek LCD untuk presentasi bersama dengan Maya, Nana dengan Wendi dari Teluk Bayur sedang mengecek kelengkapan daftar hadir, dua spanduk telah dipasang ditempatnya, satu di belakang panggung dan satunya diluar. Rekan-rekan dari Pemda juga sedang mengakat-kursi untuk tamu undangan. Setelah itu rombongan dari Sicincin datang dengan Tim terdiri dari: Pak Edi siswantoro, Mas Yuda, Pak Sayadi dan Hikmat. Tim dari Tabing dan Teluk Bayur tak beberapa lama datang , terdiri dari Pak Simangunsong bersama istri, pak Syafrizal, Umar, Pak Asmarahadi. Sekitar pukul 10.40 Bupati Solok sampai di lokasi dan membuka acara, urutannya Sambutan dari Koordinator diwakili Pak Herizal, Sambutan Bupati, Lagu Indonesia Raya, Doa, penyematan tanda peserta. Acara inti sosialisasi dimulai pukul 11.30 presentasi dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama MAs Edison dari GAW dan Pak Sayadi dari Sicincin ada pertanyaan dari Wali Nagari disitu, setelah sholat dan makan kira-kira pukul 13.40 presentasi dilanjutkan oleh pak Syafrizal dari Tabing dan MAya dari Padang-Panjang, diakhiri dengan dengan penyerahan sertifikat dan uang transport, lalu tim dari seluruh BMG foto dua kali diluar dan di dalam gedung. Pukul 15.20 kmi meninggalkan lokasi, saya ikut dengan mobil Kijang Inova Biru dengan PAdang Panjang dikendarai oleh MAs Fitri, sedangkan Pak Herizal, MAs Sugeng, MAs Edison ikut mobil Avanza hitam milik Sicincin dikendarai oleh Mas Yudha. MAs Sugeng langsung turun di Batusangkar. Ditengah perjalanan mobil PAdang PAnjang ingin mampir membeli durian tapi tak jadi karena harganya cukup tinggi Rp30.000,- sampai Rp35.000,- satu butirnya, kalo titip dengan PAk Ustad katanya Rp 100.000,- sudah dapat satu karung. Sesampai dipadang panjang kira-kira pukul 16.00, setelah sholat, menyalin arsip foto dan lain-lain kami pulang pukul 17.00,tapi ternyata PAk Amgindo telah menunggu disitu dari pukul 15.00, sekitar pukul 17.50 kami telah sampai di Bukittinggi, melalui jalur By pass, kira-kira sampai di simpang, kami belok ke arah rumah makan Seraso dan makan dulu, Saya dan mas Edison pilih hati sapi, sedangkan PAk Am udang, sedang Pak Herizal makan juga dan yang membayar semua. Setelah kira-kira pukul 19.30, kami pulang ke rumah dinas. Budi Setiawan ternyata telah menunggu dan menanyakan oleh-olehnya? Tapi karena saya tak membawa lalu gimana lagi.

Posted by: agusta6872 | February 19, 2009

GORO 21 Jan 2009

goro


Apa itu GORO? Goro adalah istilah bahasa Minang untuk Gotong Royong, kerja bakti.

       Stasiun GAW yang berlokasi di Bukit Kototabang merupakan tempat kerjaku. Stasiun GAW mempunyai kebiasaan unik yang bisa ditiru oleh kantor-kantor lain. Kebiasaan itu adalah melakukan Goro/Gotong Royong setiap beberapa waktu sekali. Sebetulnya kebiasaan Goro itu semula dilontarkan oleh Pak Amgindo, kemudian karena dipandang baik dan bagus maka kebiasaan itu dilanjutkan.

Amgindo-Penjaga Malam Kantor

 

Pak Amgindo merupakan sekuriti di Stasiun GAW Kototabang. 

 

 

 


       Mengapa Goro dapat dipandang baik dan kebiasaan itu dapat dilanjutkan? Karena Gotong Royong ini diikuti dari pimpinan Stasiun sampai ke tingkat bawah, semua ikut dan berpartisipasi. Diharapkan dengan adanya goro ini akan meningkatkan komunikasi antar staf, staf dengan pimpinan dan staf dengan bawahan, semua karyawan yang jarang berkomunikasi di dalam goro ini menjadi cair dan akhirnya bercakap-cakap.

      Lalu apa agenda kerja saat goro tersebut? Ada yang membersihkan lantai, memotong tanaman yang sudah tinggi, membersihkan lantai, membersihkan jendela, menanam tanaman, dsb.

Firda Amalia

Pak Amgindo

Bang Charles Siregar

 

 

 

 

 

 

FirdausMas Sugeng Nugroho

Agusta Kurniawan

Alberth Christian Nahas

 

 

 

 

 

 

 

Yosfi AndriPak IrwinDa Budi Satria

 

 

 

 

 

 

Setelah selesai acara gotong royong, kami lanjutkan dengan istirahat sebentar sambil berbincang-bincang, mengevaluasi kegiatan yang kami lakukan.

 

IMG 0465

Sehabis ngobrol-ngobrol dan bercakap-cakap, bersih-bersih, kemudian kami lanjutkan dengan makan bersama.

IMG 0466

Wah, makan dari nasi bungkus ‘MAK APUK’: enak tenan, kata host dalam acara TV wisata kuliner :”MAK NYUSS TENAN“, iya harganya satu bungkus Rp12.000,- sampai Rp15.000,- kok. Lauknya:rendang, ikan pedas, ayam bumbu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted by: agusta6872 | February 19, 2009

GORO 21 Jan 2009

goro


Apa itu GORO? Goro adalah istilah bahasa Minang untuk Gotong Royong, kerja bakti.

       Stasiun GAW yang berlokasi di Bukit Kototabang merupakan tempat kerjaku. Stasiun GAW mempunyai kebiasaan unik yang bisa ditiru oleh kantor-kantor lain. Kebiasaan itu adalah melakukan Goro/Gotong Royong setiap beberapa waktu sekali. Sebetulnya kebiasaan Goro itu semula dilontarkan oleh Pak Amgindo, kemudian karena dipandang baik dan bagus maka kebiasaan itu dilanjutkan.

Amgindo-Penjaga Malam Kantor

 

Pak Amgindo merupakan sekuriti di Stasiun GAW Kototabang. 

 

 

 


       Mengapa Goro dapat dipandang baik dan kebiasaan itu dapat dilanjutkan? Karena Gotong Royong ini diikuti dari pimpinan Stasiun sampai ke tingkat bawah, semua ikut dan berpartisipasi. Diharapkan dengan adanya goro ini akan meningkatkan komunikasi antar staf, staf dengan pimpinan dan staf dengan bawahan, semua karyawan yang jarang berkomunikasi di dalam goro ini menjadi cair dan akhirnya bercakap-cakap.

      Lalu apa agenda kerja saat goro tersebut? Ada yang membersihkan lantai, memotong tanaman yang sudah tinggi, membersihkan lantai, membersihkan jendela, menanam tanaman, dsb.

Firda Amalia

Pak Amgindo

Bang Charles Siregar

 

 

 

 

 

 

FirdausMas Sugeng Nugroho

Agusta Kurniawan

Alberth Christian Nahas

 

 

 

 

 

 

 

Yosfi AndriPak IrwinDa Budi Satria

 

 

 

 

 

 

Setelah selesai acara gotong royong, kami lanjutkan dengan istirahat sebentar sambil berbincang-bincang, mengevaluasi kegiatan yang kami lakukan.

 

IMG 0465

Sehabis ngobrol-ngobrol dan bercakap-cakap, bersih-bersih, kemudian kami lanjutkan dengan makan bersama.

IMG 0466

Wah, makan dari nasi bungkus ‘MAK APUK’: enak tenan, kata host dalam acara TV wisata kuliner :”MAK NYUSS TENAN“, iya harganya satu bungkus Rp12.000,- sampai Rp15.000,- kok. Lauknya:rendang, ikan pedas, ayam bumbu.

 

 

 

 

 

 

 

GORO STASIUN GAW 21 JANUARI 2009GORO STASIUN GAW 21 JANUARI 2009GORO STASIUN GAW 21 JANUARI 2009

 
 

Posted by: agusta6872 | January 28, 2009

KUNJUNGAN ROMBONGAN DARI FAKULTAS PERTANIAN UNAND KE GAW

IMG 0482

      Selasa, 27 Januari 2009, Stasiun GAW mendapat kunjungan ilmiah dari Dosen dan Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Kira-kira ada sekitar 5-10 orang dosen dan sekitar 40 orang mahasiswa yang hampir semua duduk di semester 7. Maksud dari kunjungan itu, agar mahasiswa tidak hanya melulu belajar dari buku tapi juga praktek di lapangan.

         Mahasiswa Fakultas Pertanian UNAND tersebut mempelajari dari daerah yang rendah/pesisir sampai ke daerah pegunungan. Daerah pegunungan yang dipilih adalah kunjungan ke stasiun GAW Kototabang.

     Saat pertama datang kunjungan langsung disambut oleh Mas Edison (staf fungsional yang paling tua di kantor kami) dan Mas Sugeng (sebagai kepala Seksi Data dan Informasi), setelah itu Mas Edison memberikan paparan tentang Stasiun GAW Kototabang:Sejarah, Visi dan Misi, Tujuan berdirinya stasiun ini. IMG 0482IMG 0480

 

 

 

 

 

Sedangkan pimpinan rombongan UNAND tersebut berbincang-bincang dengan kepala stasiun di ruangannya.

 

IMG 0484

Semangat belajar sangat tinggi rombongan UNAND ini saat mendengar penjelasan dari Mas Edison.     IMG 0478

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     Setelah itu rombongan tersebut dibagi menjadi empat kelompok, satu ikut diskusi dan presentasi yang dipandu oleh kepala stasiun (Pak Herizal), kelompok kedua di dek atas, dipandu oleh Bang Charles dan Albert, kelompok tiga di ruangan laboratorium dipandu oleh Mas Edison, saya (agus), Firda, dan Da Budi Satria, kelompok terakhir yang keempat berada di Taman Alat Meteorologi dipandu oleh Mas Sugeng.

 IMG 0495

 

Kelompok satu di Ruang Rapat, bersama Pak Herizal, mengajak berdiskusi tentang Stasiun GAW, perubahan iklim dan sebagainya.

 

 

 

IMG 0501IMG 0485IMG 0498

 

 

 

 

 

 

         Sementara itu di ruang laboratorium-ruang Meteorologi dan Ruang Teknisi, saya, Mas Edison, Firda dan Da Budi Satria (Da=Oda adalah sebutan untuk kakak dalam bahasa Minang) menjelaskan tentang peralatan di stasiun GAW, bagaimana kerjanya, bagaimana cara menjalankan.Peralatan yang dijelaskan antara lain: pH dan Konduktivitas (produk dari INOLAB), CO2-H2O-CH4 analyzer (dari Picarro), Water Purifier, Air Kit Flask Sampel, NO-NO2-NOx Analyzer (dari TEI) Ozon Analyzer (dari TEI), CO Analyzer (dari HORIBA dan TEI), BAM 1020, NEphelometer M 9003, BLR, MAWS, dan Solar Radiation.

IMG 0491

IMG 0490

 

 

 

 

 

 

Bang Charles Siregar dan Albert dengan bersemangat menjelaskan tentang inlet dan alat-alat yang ada di dek atas.

IMG 0488

 

Mas Sugeng sebagai seorang Single Fighter menjelaskan dengan semangat membara di Taman Alat, ‘Apa nama alat ini Pak’, tanya seorang Mahasiswa UNAND.

 

 

 

Kunjungan berakhir kira-kira pukul 13.30-15.00, karena rombongan UNAND itu kemudian melanjutkan ke LAPAN.

Posted by: agusta6872 | January 22, 2009

GORO 21 JANUARI 21009

 

goro


Apa itu GORO? Goro adalah istilah bahasa Minang untuk Gotong Royong, kerja bakti.

       Stasiun GAW yang berlokasi di Bukit Kototabang merupakan tempat kerjaku. Stasiun GAW mempunyai kebiasaan unik yang bisa ditiru oleh kantor-kantor lain. Kebiasaan itu adalah  melakukan Gotong Royong setiap beberapa waktu sekali. Kami melakukan Goro sebulan sekali, kadang -kadang dua bulan sekali. Sebetulnya kebiasaan Goro itu semula dilontarkan oleh Pak Amgindo, kemudian karena kebiasaan itu dipandang baik dan bagus maka akhirnya kebiasaan itu dilanjutkan.

Amgindo-Penjaga Malam Kantor

 

Pak Amgindo merupakan sekuriti di Stasiun GAW Kototabang. 

 

 

 


       Mengapa Goro dapat dipandang baik dan kebiasaan itu dapat dilanjutkan? Karena Gotong Royong ini diikuti dari pimpinan stasiun sampai ke tingkat bawah, semua ikut dan berpartisipasi. Diharapkan dengan adanya goro ini akan meningkatkan komunikasi antar staf, staf dengan pimpinan dan staf dengan bawahan, semua karyawan yang jarang berkomunikasi di dalam goro ini menjadi cair dan akhirnya bercakap-cakap. Kedua dapat menambah kebersihan dan kerapian dalam stasiun GAW sendiri.

      Lalu apa agenda kerja saat goro tersebut? Ada yang membersihkan lantai, memotong tanaman yang sudah tinggi, membersihkan lantai, membersihkan jendela, menanam tanaman, dsb.

Firda Amalia

Pak Amgindo

Bang Charles Siregar

 

 

 

 

 

 

FirdausMas Sugeng Nugroho

Agusta Kurniawan

Alberth Christian Nahas

 

 

 

 

 

 

 

Yosfi AndriPak IrwinDa Budi Satria

 

 

 

 

 

 

Setelah selesai acara gotong royong, kami lanjutkan dengan istirahat sebentar sambil berbincang-bincang, mengevaluasi kegiatan yang kami lakukan.

 

IMG 0465

Sehabis ngobrol-ngobrol dan bercakap-cakap, bersih-bersih, kemudian kami lanjutkan dengan makan bersama.

IMG 0466

Wah, makan dari nasi bungkus ‘MAK APUK’: enak tenan, kata host dalam acara TV wisata kuliner :”MAK NYUSS TENAN“, iya harganya satu bungkus Rp12.000,- sampai Rp15.000,- kok. Lauknya:rendang, ikan pedas, ayam bumbu.

 

Posted by: agusta6872 | January 20, 2009

MAIN KE RUMAH YOSFI DI PADANG PANJANG?

 

IMG 0434

        Minggu sore 10 Januari 2008, setelah pulang dari arisan BMG se-Sumatera Barat di Kantor Stasiun Klimatologi Sicincin, saya (Agus) dan Yosfi mampir dulu ke rumah nenek Yosfi di Padang Panjang. Kira-kira menempuh waktu sekitar 45-90 menit, naik sepeda motor.

Yosfi A-Staf BAM+Nefelo

 

 

Yosfi Andri, akrab dipanggil Yosfi, alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika, yang sekarang melanjutkan studi di Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Di Stasiun GAW Kototabang merupakan staf Operator instrument berikut : Radiasi Matahari, BAM 1020 

 

 

 

 

IMG 0430

IMG 0433

 

 

 

 

 

 

Sesampai di rumah Yosfi kira-kira pukul 15.00 WIB, kami diterima ibu Yosfi, Bibi Yosfi, Paman dan adapula adik Yosfi, si Yon. Kami langsung disambut minuman kopi dan makanan spesial (kacang goreng dan bubur), bubur ini sangat kas dan lezat lho.

IMG 0428

Lokasi sebenarnya rumah nenek Yosfi bukan di Padang Panjang, tapi di tanah datar, dari batas kota padang Panjang masih kira-kira 5-10 km perjalanan ke arah kota Batusangkar.

IMG 0435

Setelah Yosfi Sholat Ashar, dan menghabiskan makanan, kami selanjutnya pulang ke Bukittinggi, sementara ibu Yosfi dan Si Yon kembali ke Padang.

 

Older Posts »

Categories